Monday, 29 October 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 11

Translator : Sai Kuze

Chapter 11 - Strategi yang Terlupakan



Butuh sekitar tiga puluh menit sejak saat itu, kelompok sang putri menyelesaikan persiapan kereta lalu pergi ke arah timur, dan tak lama kemudian sosok mereka telah menyusut di kejauhan.

Aku menyingkirkan cabang pohon yang aku gunakan untuk menyembunyikan kepalaku.

Berdasarkan dengkuran yang terdengar, Ponta tampaknya tidur siang di atas pelindung kepalaku.

Berdiri perlahan agar tidak membangunkannya, aku mendesah pelan untuk menenangkan hatiku.

Hatiku tersapu ke arah di mana kereta itu menghilang dengan pikiran yang menyebabkan keringat dingin tak berhenti.

Apa yang aku pikirkan adalah seorang gadis bangsawan yang sederhana sebenarnya anggota dari beberapa keluarga kerajaan. Aku menghidupkan kembali mereka dengan sihir dan itu dianggap sebagai berkah para dewa.

Ketika aku menjadi cukup tenang untuk berpikir, aku menyadari kebangkitan adalah sihir yang sangat dicari, seperti sepasang saudara yang mencari batu filsuf untuk menghidupkan orang mati.
(TL Note: Mungkin referensi Fullmetal Ballcemist)

Manusia yang kubangkitkan tidak menjadi undead dan aku tidak melihat apapun sebagai efek sampingnya.

Sepertinya itu tidak selalu menghidupkan kembali semua yang mati, ada bagian-bagian yang kondisinya tidak jelas.

Ketegangan yang aku rasakan saat melemparkan sihir juga harus dipertimbangkan.

Meskipun sihir kebangkitan dan pemulihan adalah hal yang biasa dalam game, jika aku berlebihan di sini aku mungkin akan diakui sebagai orang suci atau sesuatu yang lain. Tidak, jika ditangani dengan tidak benar, hal itu bisa menghasilkan pembentukan agama baru. Maka akan ada kemungkinan agama baru memulai perang suci yang meliputi seluruh dunia.
(TL Note: Arc Kami-sama)

Akan berbeda jika itu adalah gadis desa atau putri bangsawan rendah yang dibangkitkan setelah kecelakaan, tetapi situasinya seratus kali lebih buruk karena itu adalah menghidupkan kembali putri yang telah terbunuh.

Satu hal yang pasti …… sejarah telah berubah selamanya.

───Tidak, di era seperti ini, bangsawan pastilah memiliki banyak putri, jadi sejarah tidaklah terlalu terpengaruh, …… Yah ku pikir sih begitu.

Selain itu, karena tidak ada saksi pastilah aku aman - mungkin inilah yang terbaik untuk menghindari menggunakan sihir kebangkitan sebanyak mungkin yang aku bisa.

Di dalam otakku, sebuah majelis nasional berkumpul sedang berdebat untuk mengatasi masalah ini.


“Hmm. Tidak ada yang terjadi."


Keputusan ini menang dengan mayoritas suara  terbesar dan dalam beberapa saat, masalah itu dilupakan.

Agar tidak menganggu Ponta, aku berbalik perlahan dan kembali menuju jalur tempatku datang tadi.

Waktu sudah berlalu cukup lama sejak aku meninggalkan Ariane di hutan. Mengikuti penanda yang aku tinggalkan, aku menggunakan 【 Dimensional Step 】 untuk menerobos hutan.

Tak lama, aku menemukan tiga serigala putih besar dengan kaki belakang mereka terikat dan tergantung di dahan pohon, kepala mereka tertuju ke tanah.

Di pangkal pohon tempat serigala bergelantungan, duduk seorang dark-elf wanita yang sepertinya agak merajuk.
(TL Note: ngambek)

Dia duduk dengan mengangkat lututnya menyebabkan puncak kembarnya terdorong keatas lebih dari biasanya; aku pikir dia terlihat senang saat melihatku, tetapi dia kembali merajuk sesaat kemudian.


“Oi! Kau ini kemana saja?"

"Uh, maaf. Aku sedikit tersesat.”


Aku mendorong semak ke samping dan meminta maaf padanya sebelum berjalan menuju pohon dengan serigala yang tergantung.


"Dengan begini darah sudah selesai dikeringkan ...... Tolong bawa kita ke Raratoia."

“Ah, itu benar! Seharusnya aku mencari lokasi teleportasi yang cocok… .. ”


Aku kelupaan, Ariane telah memintaku untuk pulang sebentar ke Raratoia dan itulah alasan yang aku lupakan sejak awal.

Mendengar pernyataanku, dia mulai menatapku dengan ekspresi tertegun, seolah-olah dia tidak bisa mempercayainya.

Protesnya dapat dimengerti, sekitar satu jam yang lalu, aku pergi dengan alasan untuk menemukan penanda lokasi yang cocok.


“Tunggu, aku belum selesai …… Aku melupakan tujuanku karena aku sibuk mencari jalan kembali. Kali ini, aku akan mencari penanda lokasi yang cocok.”


Saat membela diri, aku mengalihkan perhatianku kearah gunung Annette yang mengintip di atas pepohonan, dengan cepat memberi tahu Ariane tentang tujuanku berikutnya.

Mempercayakan Ponta padanya yang masih tertidur, aku dengan tergesa-gesa berlari melewati hutan dengan 【 Dimensional Step 】.

Mengharapkan perasaannya yang sedang kesal akan disembuhkan oleh wajah tidur Ponta, aku mulai mencari lokasi yang bisa digunakan untuk 【 Transfer Gate 】.

Sepuluh menit kemudian aku sampai di sebuah dataran yang luas.

Di tengah dataran ada pohon besar yang dikelilingi semak-semak.

Meskipun berada di tengah hutan, pemandangan ini cukup mengesankan.

Aku melirik pohon yang menjulang tinggi dan menyadari aku satu-satunya orang yang berada disini, yang menyaksikan bunga-bunga bermekaran.

Itu mirip sekali seperti di Jepang, dan jika ini adalah duniaku yang dulu maka disekitar pohon itu akan ada ikatan jerami Shinto, tidak diragukan lagi.
(TL Note: Itu lho pohon2 Jepang yang biasanya diiket pake lilitan jerami yang bentuknya kek Gespernya Sasuke pas jadi murid Orochimaru)


"Hmm, sepertinya tidak ada masalah di sini."


Sembari bergumam pada diriku sendiri di hutan, aku mengukir tempat misterius ini dalam ingatanku. Untungnya, itu tidak terlalu sulit dilakukan karena pemandangan ini begitu mengesankan dan aku dengan cepat berangkat.
.
Langit yang terlihat di antara cabang-cabang pepohonan telah berawan, dan perlahan hujan mulai turun dari langit yang berwarna abu-abu.

Setelah kami berteleportasi ke Raratoia, perjalanan kami melewati hutan mungkin terhambat oleh cuaca.

Aku menggunakan 【 Dimensional Step 】 untuk kembali ke tempat di mana aku meninggalkan Ariane dan Ponta dan mulai berjalan keluar dari semak belukar.

Kemudian, di hadapanku, aku melihat Ariane memendam wajahnya di perut Ponta.


  Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 11

Saturday, 27 October 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 10

Akhirnya ada waktu nerjemahin ini projek !!!!
Yang nanyain PDF Volume 2, seperti yang sudah saya katakan, PDF dibuat tiap 1 volume kelar.
Dan Chapter 10 ini masih ada dipertengahan volume 2, so sabar wae.

Untuk jadwal update projek ini sendiri, bisa dilihat di halaman "Schedule".
Dan karena domain blog ini sudah diupgrade menjadi TLD, menyebabkan tidak akan muncul dipencarian dalam beberapa waktu kedepan. Mayan .com $1.25 minat PM.
😂 

Maka dari itu saya sangat mengharapkan para pembaca memberikan komentar dan juga menyebarkan postingan ini di akun sosmed masing-masing.




Translator : Sai Kuze

Chapter 10 - Sesuatu yang Tidak Masuk Akal


Di bawah langit yang gelap dan berawan, dibalik bayang-bayang pepohonan di hutan saat aku melangkah ke arah teriakan yang kudengar beberapa waktu yang lalu.

Bau darah secara bertahap mulai bercampur dengan angin, dan suara gemuruh telah mereda. Hanya suara kakiku yang bergerak menembus semak-semak yang dapat terdengar saat ini.

Tak lama, jalur itu memperlihatkan jalanan yang membentang di antara hutan dan jurang.

Aku sekarang berdiri di tepi jurang yang dalamnya sekitar tiga meter.

Banyak mayat tersebar di jalanan dan bau darah bercampur ke seluruh area.

Di beberapa tempat, lubang-lubang tanah dan beberapa kobaran api masih menyala disana-sini. Pertarungan sengit sepertinya baru saja terjadi.

Ada lima serigala besar sedang menyantap mayat yang berserakan di sekitar medan pertempuran ini. Mereka menggerogoti tubuh, dan suara patahan tulang bergema di seluruh area.

Kelima serigala pastilah para Haunting Wolves yang kami kalahkan beberapa saat lalu, karena beberapa dari mereka memiliki bekas luka dari Ariane.

Ketika para Haunting Wolves tengah menyantap mangsanya. Begitu mereka melihatku, yang muncul dari semak-semak, mereka mengangkat kepala mereka dan mununjukan taring mereka padaku sembari perlahan-lahan mundur.

Sorotan mata mereka yang penuh waspada terus berlangsung cukup lama.


"Hiyattt !!!"


Ketika aku mengangkat tanganku di langit dan menyerang dengan kecepatan penuh sembari berteriak, jubahku berkibar ditiup angin, Haunting Wolves berbalik dan berlari.

Teriakanku yang keras itu secara tak terduga cukup efektif; bahkan Ponta terkejut hingga ia melingkar di leherku, membentuk sebuah syal wol bahkan sebelum aku menyadarinya.

Meminta maaf kepada Ponta, aku mengelus-elus bulu lembutnya.

Sebuah kereta kuda hitam besar terhenti di dekat pusat mayat-mayat yang berserakan, dan mayat-mayat di sekitarnya adalah ksatria dengan armor yang bagus. Mereka sepertinya berusaha melindunginya.

Melihat pemandangan ini memunculkan kesan seorang bangsawan dan pengawal mereka.

Keempat kuda yang diikat di bagian depan kereta itu tampaknya sudah mati, tetapi dua kuda dibelakangnya yang tidak bisa pergi kemanapun sedang meringkuk sembari menggaruk-garuk tanah dengan kuku-kuku mereka.

Selain itu, beberapa mayat yang sepertinya bandit tersebar di seluruh wilayah, dan aku belum melihat satu pun yang masih bernafas.

Ketika aku melihat Haunting Wolves beberapa saat yang lalu, aku percaya apa yang terjadi di sini adalah karena keterlibatan Ariane dan diriku sendiri, tetapi sepertinya itu tidak benar.

Dengan ringan aku melompat dari tepi jurang sedalam tiga meter, lalu memastikan untuk tidak menginjak siapa pun saat aku semakin mendekat.

Mayat-mayat berarmor yang terlihat cocok sebagai para pengawal memiliki bekas luka dari pedang dan panah. Hampir tidak ada dari mereka yang memiliki bekas gigitan dari Haunting Wolves.

Ada beberapa tubuh yang telah hangus hitam, mungkin dikarenakan serangan sihir, tetapi beberapa dari mereka dibunuh menggunakan senjata manusia.

Sementara aku memikirkan hal-hal seperti itu, aku berbalik ke arah bandit yang telah diserang oleh Haunting Wolves. Para pengawal kemungkinan besar telah mati pada saat bandit-bandit itu diserang.

Tubuh bandit di samping para pengawal tewas oleh pedang, tetapi kebanyakan dari mereka memiliki bekas gigitan dari Haunting Wolves. Ada seseorang yang kehilangan lengannya sementara yang lain terbaring di tanah dengan perutnya robek.

Ada mayat yang berpakaian seperti priest Shinto dan kepalanya hilang, tidak menyisakan apa pun kecuali mayat yang mengerikan.

Sembari memikirkan kekejaman dunia dan para dewa, aku berjalan menuju kereta, menghindari tumpukan mayat sebaik mungkin.

Pintu kereta terbuka, dan seorang wanita yang mengenakan pakaian pelayan telah terjatuh darisana. Kereta itu berlumuran darah, dan seorang gadis bangsawan yang tewas dengan gaun mewah sedang berbaring di lantai.

Darah itu meresap ke dalam rambut pirangnya yang panjang dan membasahi bibirnya sementara itu dadanya memiliki luka yang jelas disebabkan oleh senjata tajam.

Berdasarkan posisi pengawal dan lokasinya di kereta, gadis ini sepertinya cukup penting.

Darahnya masih hangat dan kulitnya belum pucat, kemungkinan waktu kematiannya belum lama.

Aku bahkan bisa melihat bekas-bekas air mata di sudut matanya, namun matanya yang setengah tertutup itu kosong, meninggalkan gadis itu dengan ekspresi tertidur.


“Kyua〜 ……”


Ponta menjerit sedih sembari masih melilit di leherku.

Membelai kepala Ponta, aku akhirnya memikirkan salah satu kemampuan sihirku.

Aku tahu tidak ada gunanya menggunakan sihir penyembuhan pada orang yang sudah mati. Namun, kelas pope dan bishop memiliki sihir pembangkitan.

Itu adalah mantra dasar di dalam game, jadi pertanyaannya adalah apakah itu akan bekerja di dunia ini seperti kegunaannya di dalam game.

Jika aku tidak salah, kelas menengah bishop memiliki mantra 【 Revival 】 yang dapat membangkitkan seseorang dengan 10% dari total HP mereka. Bahkan jika seseorang dihidupkan kembali dengan 10% dari HP mereka setelah terluka parah, jika luka mereka tidak segera disembuhkan mereka akan sekarat dan mati lagi.

Kelas Pope level tinggi memiliki mantra 【 Revival 】 yang sepenuhnya menyembuhkan target, tetapi aku penasaran bagaimana mantra itu bekerja dalam kenyataan.

Perasaan tidak menyenangkan merayap ke arahku saat memikirkan kematian gadis muda itu, jadi aku meletakkan tanganku di atas tubuhnya dan mempersiapkan diriku untuk mengeluarkan mantra sihir.


"【 Revival 】"




Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 10


Thursday, 11 October 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 9

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 9



Translator : Sai Kuze

Chapter 9 - Sungguh Tak Beralasan


Jalanan di hutan tidaklah lebar; ada jurang di sebelah kiri, dan pohon-pohon berakar tebal dan semak belukar berdiri di sebuah lereng sehingga sulit untuk melihat daerah dibaliknya.

Di jalanan seperti itu, kereta hitam besar, yang ditarik empat kuda sedang melaju dengan kencang.

Kereta itu memiliki desain yang agak sederhana, tetapi mata seorang pengrajin pasti bisa melihat detail yang lebih bagus dari kereta itu dan menilainya sebagai milik seorang bangsawan.

Sunday, 7 October 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 8

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 8


 
Translator : Sai Kuze

Chapter 8 - Sesuatu yang Menganggu [Bagian 2]


Keesokan harinya, kami meninggalkan penginapan di kota Cellist dan memasuki hutan dari gerbang selatan.

Kami awalnya mengambil jalan utama di sepanjang hutan sebelum merubah arah memutar ke barat daya yang mengarah menuju pegunungan Parnassus. Biasanya kau membutuhkan kompas untuk menjelajahi hutan dengan aman; Namun, itu hanya jika kau tidak ditemani salah satu penduduk hutan seperti Ariane yang tidak ragu saat melangkah memimpin di depan.

Saturday, 6 October 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 7

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 7


 
Translator : Sai Kuze

Chapter 7 - Sesuatu yang Menganggu [Bagian 1]


Keesokan harinya kami meninggalkan pondok itu lebih awal dan menuju ke barat pegunungan Annette. Hutan itu diselimuti kabut yang sama sejak kemarin, jadi kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki.

Kadang-kadang, monster akan mengacungkan taringnya dan menyerang, tetapi bukannya menjadi ancaman, mereka hanya mampu memperlambat langkah kami.

Tuesday, 2 October 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 6

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 6


 
Translator : Sai Kuze

Chapter 6 - Tujuan yang Dipilih


Di hutan dimana kabut menyelimuti pepohonan yang menjulang tinggi, dark-elf Ariane berjalan di depan dengan jubah abu-abunya yang berkibar tertiup angin, sementara di belakangnya, aku mengikutinya agar tidak tertinggal.

Saat ini jubah hitam yang menutupi armorku telah menjadi pakaian standar saat bepergian. Di atas pelindung kepalaku, Ponta menguap besar dengan matanya yang lelah ketika dia mencoba untuk tidak terjatuh.

Monday, 1 October 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 5

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 5


 
Translator : Sai Kuze

Chapter 5 - Pedagang Tidak Menawar



Saat kami menuju mansion, Tetua Dylan dan Ariane sudah kembali dari Maple.

Ariane tidak mengenakan peralatan pelindungnya atau setelan pakaian dengan manset lengannya. Hari ini, dia mengenakan pakaian tradisional elf dan mantel haori yang menggantung di pundaknya. Belahan dada dark-elfnya sedikit terbuka.

Aku merasa bisa menikmati pemandangan pakaian yang tidak biasa seperti ini, tetapi aku harus mengabaikannya untuk hal lain pada malam ini.

Thursday, 27 September 2018

The Eternal One Prolog

Penulis : Sai Kuze


Prolog


Di kegelapan malam yang sunyi pada distrik pertokoan yang hanya tersinari cahaya rembulan, kesunyian pada distrik pertokoan itu layaknya sebuah kota mati.

Tidak ada jendela yang terlihat memancarkan cahaya, bahkan semua kristal lampu jalananpun tidak ada yang memancarkan sinarnya.

Pada suasana mencekam di distrik itu terlihat siluet perempuan berlari dengan seluruh kekuatan yang dia punya.

Wednesday, 26 September 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 4

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 4


 
Translator : Sai Kuze

Chapter 4 - Berkeliling Raratoria


Hal pertama di pagi hari, bau sarapan dan suara kicau burung mencapai telinga dan hidungku. Mataku terbuka karenanya dan aku bisa melihat sekelilingku.

Mengangkat kepalaku untuk melihat-lihat ruangan, aku melihat bahwa full-body armorku yang berwarna perak dengan corak putih dan biru sedang bersandar di samping tempat tidur.

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 3

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 3


 
Translator : Sai Kuze

Chapter 3 - Ibukota Hutan Maple


Keesokan harinya, tetua Raratoia dan ayah Ariane pergi ke sebuah kuil kecil yang terletak di pohon besar di pusat desa.

Saat matahari terbit, angin yang berhembus melewati desa masih membawa udara dingin yang tidak menyenangkan.

Thursday, 20 September 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 2

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 2


 
Translator : Sai Kuze

Chapter 2 - Bergerak Menuju Raratoria [Bagian 2]


Pohon-pohon dihutan tersingkap, dan terlihat sebuah desa yang benar-benar berbeda dari desa manusia.

Desa itu dikelilingi oleh dinding persegi yang mungkin tingginya lebih dari tiga puluh meter dan tampak seperti itu adalah bagian dari kota.

Ketika kami mendekati struktur itu, aku melihat terdapat ukiran seekor tikus yang terukir di dinding.

Pilar-pilar kayu berwarna hijau terang hingga mencapai puncak dan tak ada celah yang terlihat pada struktur itu; yang semuanya menghasilkan sesuatu yang mengesankan dan menakjubkan pada penglihatanku.

Saturday, 15 September 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Chapter 1



 
Translator : Sai Kuze

Chapter 1 - Bergerak Menuju Raratoria [Bagian 1]


[Bergerak menuju Raratoia] bagian 1

Kelompok bergerak melintasi hutan yang dipenuhi pohon-pohon tinggi dan tebal, berusaha tidak tersandung akar yang tertutupi lumut.

Langit di timur sudah mulai cerah dan sedikit sinar matahari menembus dedaunan.

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 2 Prolog

Translator : Sai Kuze

Prolog


Rhoden Kingdom bangga menjadi kerajaan ketiga paling kuat di benua Utara.

Sisi timur dan barat Leburan Empire menyentuh perbatasan utara, garis pantai yang terhubung ke Teluk Burugo di barat, selatan mengarah ke laut dan sisi timur terdapat hutan Kanada, tanah yang berdiri sendiri dan rumah para elf. Singkatnya, lokasi kerajaan membuatnya relatif aman dari musuh asing.

Perbatasan utara terhubung dengan kedua Leburan Empire.

Holy Leburan Empire timur dan Great Leburan Empire barat dulu adalah satu kekaisaran sebelum terbagi menjadi dua, dan sekarang keduanya saling bertempur satu sama lain, berusaha merebut kekuatan total di benua itu.

Kedua kekaisaran hampir sama dalam kekuatan, sehingga perjuangan untuk supremasi akan diputuskan oleh kekaisaran yang berhasil menarik Rhoden Kingdom ke sisinya, dan karena ini adalah konflik timur vs barat mereka telah menebarkan bayangannya di Rhoden Kingdom.

Holy Leburan Empire timur memiliki pelabuhan-pelabuhan tropis dan dataran luas di selatan, dan bermaksud menawarkannya kepada Rhoden dengan imbalan menggulingkan barat. Sementara Great Leburan Empire di barat berencana menggunakan Rhoden untuk menggulingkan timur.

Selain itu, perjuangan untuk suksesi takhta Rhoden juga meningkat, dengan Great Leburan Empire mendukung Pangeran pertama Sect dan Holy Leburan Empire mendukung pangeran kedua Douglass.

Faksi terakhir yang terlibat dalam upaya perebutan tahta adalah putri kedua Juliana yang tetap independen dari kerjaan lain. Sebaliknya, dia memusatkan perhatiannya pada barat, melalui wilayah Rinburuto, dan berusaha memperkuat ikatan antara hutan besar Kanada dan para elf yang menghuninya.

Perebutan kekuasaan yang sengit antara orang-orang ini telah memisahkan bangsawan kerajaan, dan karena sumber dana gelap yang mendanai faksi pangeran kedua telah guluang tikar karena campur tangan seseorang, lingkup pengaruhnya telah sangat bergeser di kerajaan.

Di utara pegunungan Calcutta, sebuah dataran subur terbuka, dari sisi timur pegunungan naga angin pasokan air dari sungai Rydell mengalir melewati ibu kota menuju laut selatan.

Di sebuah ruangan tertentu di istana kekaisaran di ibu kota Olav, seorang wanita yang ditemani oleh pelayan pribadinya duduk di kursi yang menghadap ke halaman, bersama dengan dua orang lainnya.

Wanita yang duduk dengan perilaku sopan, mengenakan pakaian rapi dan dikelilingi oleh suasana tenang sementara masih mempertahankan keimutan seorang gadis muda, dia lah putri kedua kerajaan ini, Juliana Meroru Melissa Rhoden Olav.

Dia memiliki rambut pirang yang panjang tergerai dalam seperti bentuk gelombang, mata coklat yang indah dan kulit putih wajahnya adalah perpaduan yang sangat seimbang. Namun, jauh di dalam matanya berdiam cahaya seseorang berkemauan keras.


“Kali ini, aku mendengar bahwa Douglass nii-san dan Sect nii-san tertarik pada wilayah Hoban. Secara resmi mereka akan menghadari pesta, tetapi kenyataannya mereka hanya bertujuan ke wilayah di sekitar ibu kota. ”


Seorang pria di awal hidupnya mengangguk mendengar kata-kata puteri Juliana sebelum menanggapinya.

Pria besar ini mengenakan seragam seorang Jenderal, memiliki rambut cokelat yang dipotong sangat pendek dan rahang persegi yang memberikan kesan yang bermartabat.

Orang ini adalah duke milik faksi sang putri, kepala keluarga Frivetran dan salah satu dari tiga jenderal kerajaan ini, Carton De Frivetran.


“Pemeriksaan di Hoban sepertinya berbahaya. Masih ada spekulasi yang beredar di sekitar istana tentang insiden sebelumnya. Beberapa bahkan mengatakan bahwa serangan tiba-tiba elf adalah tipuan yang dibuat faksi Pangeran Sect, ataupun faksi kita sendiri.”


Insiden yang disebutkan sebelumnya adalah pembunuhan seorang anggota faksi pangeran kedua, Marquis Diento.

Di Rhoden Kingdom, dilarang untuk menangkap dan menjual elf, tetapi mantan penguasa Diento telah dicurigai melakukan hal itu di pasar gelap, dan peristiwa itu terjadi tepat ketika puteri Juliana mengirim pengintai untuk secara diam-diam menyelidikinya.

Mula-mula kesaksian para saksi menyatakan bahwa elf adalah orang-orang dibalik serangan itu, tetapi para saksi tiba-tiba menghilang, yang menyebabkan sejumlah spekulasi mengenai siapa pelaku sebenarnya. Tujuan serangan itu juga tetap tidak jelas, yang pada gilirannya menyebabkan spekulasi lebih banyak lagi.


“Ada juga serangan serentak terhadap para pedagang budak, dan diatas itu tentang seluruh tabungan Marquis Diento menghilang. Semua spekulasi terus menumpuk.”


Putri Juliana mengangkat bahu dan mendesah keras.


“Mayoritas keberadaannya masih belum diketahui, tetapi sebagian dari hartanya tampaknya telah ditemukan di wilayah Diento. Potongan furnitur mahal ditemukan dalam kepemilikan warga. Semua yang diambil telah ditemukan di pasar terbuka. Jika keluarga Diento ingin memulihkan segalanya, mereka harus bertindak cepat sebelum yang lain menghilang ke dalam kegelapan.”


Pria muda yang duduk di sebelah sang jenderal membuka mulutnya.

Dia juga mengenakan seragam umum militer, meskipun agak disederhanakan, perilakunya sopan dan terlihat sangat mirip dengan Jenderal Carton meskipun wajahnya lebih halus daripada wajah Jenderal. Namun, nadanya sebanding dengan Jenderal Cartons.

Namanya adalah Lendl Do Frivetran. Dia adalah komandan batalyon unit militer besar, pewaris gelar seorang duke Frivetran dan putra Jenderal Carton.


“Apa pun yang mereka lakukan, itu akan memakan waktu lama sebelum keluarga Marquis Diento pulih. Dengan hilangnya sebagian besar pendukung fanatiknya, Pangeran Douglass mencoba untuk memadamkan kekacauan dalam faksi-nya ... Saya juga mendengar bahwa Pangeran Sect membuat penawaran dengan Duke Brutus.”


Jenderal Carton mengelus jenggot tebalnya karena kecemasan atas gerakan kedua faksi dan menyebabkan alisnya naik dan keriputnya menjadi lebih terlihat.

Sembari mengangguk pada kekhawatiran Jenderal, putri Juliana berbicara tentang korespondensi masa depan.


“Badai akan datang …… Mungkin lebih baik untuk memajukan jadwal kita dan mempercepat kunjungan kita menuju Rinburuto. Helen meminta untuk menemani kita saat itu tiba. ”


Juliana menegakkan punggungnya saat dia berdiri dan melihat di mata pelayan pribadinya dan teman dekat masa kecilnya Feruna, sembari berbicara tentang jadwal masa depannya.

Pelayan Feruna tersenyum kecil, menajamkan tatapannya, dan menundukkan kepalanya dengan rambut yang diikat indah.


Saturday, 1 September 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Epilog

Translator : Sai Kuze

Epilog


Dalam jajaran pegunungan Calcutta, jumlah sungai Rydell yang sangat banyak mengalir menuju timur dari pegunungan naga angin.

Ibu kota kerajaan Rhoden berdiri di tempat seperti itu. Ibukota kerajaan adalah kota dinding berlapis empat yang dibangun dengan istana kerajaan di pusatnya.

Populasinya tiga kali dari kota benteng Diento, melampaui 50.000 jiwa.

Sebuah ladang gandum besar berkembang di luar dinding kota, dan berkat jalan-jalan utama yang mengarah ke arah mata angin tidak hanya bagus untuk memproduksi barang-barang di ibukota melainkan juga mengalirkannya ke seluruh negeri.

Meskipun kerajaan Rhoden dengan bangga memegang posisi kekuatan terbesar ketiga di benua ini, ini bukan sebuah kerajaan yang diperintah oleh satu kerajaan seperti Leburan Empire di Northern Midwest.

Itu adalah kerajaan yang dibentuk oleh pengumpulan banyak bangsawan dan lord feudal, dengan keluarga kerajaan Olav sebagai pusatnya. Oleh karena itu, meskipun para bangsawan menetapkan kebijakan-kebijakan kerajaan, mereka tidak dapat secara sembarangan mengganggu wilayah-wilayah di bawah kekuasaan para lord feudal.

Kekuatan keluarga kerajaan melampaui satu orang lord, tapi itu tidak dapat dibandingkan dengan semua kekuatan gabungan para bangsawan.

Bagaimanapun, keluarga kerajaan dapat campur tangan dengan kekuatan militer jika tindakan lord feudal merupakan ancaman bagi kerajaan. Maksudnya adalah invasi dari kerajaan lain atau pemberontakan lord feudal, seringkali mereka dihentikan tanpa bantuan lord kerajaan lainnya.



Douglass POV



Di ibukota kerajaan Olav, pembunuhan marquis dari Diento sedang dibahas di istana kerajaan yang diadakan di dalam istana. Banyak rumor dan banyak spekulasi yang dibagikan diantara bangsawan yang hadir pada kasus ini.

Di ruangan tertentu milik pangeran kedua Douglass Shishle Carunon Rhoden Vetoran, dua pria sedang berdiskusi.

Di belakang dua orang yang duduk, berdiri satu orang. Tidak ada yang lain selain ketiganya, bahkan pelayan, di dalam ruangan.

Orang yang berdiri tidaklah tinggi, tetapi dia memiliki tubuh yang terlatih baik dan fitur yang menyenangkan. Mata birunya sebagian tersembunyi oleh rambut emas, dia mengenakan pakaian serba guna yang mudah untuk bergerak, dan pernak-pernik dekoratif emas yang hanya bisa dimiliki oleh bangsawan menghiasi pakaiannya.

Dia adalah pangeran kedua dari keluarga bangsawan Olav.


“Berengsek! Sumber terbesar dari pendapatan faksi kami telah dihancurkan! ”


Ciri khas Pangeran Douglass acap kali ia kelepasan mengucapkan kata-kata itu.

Pria besar yang duduk mengangguk serius setuju.

Rambut pria itu adalah perpaduan warna abu-abu dan cokelat dan dia memiliki janggut yang terhormat, tetapi dia tidak terlihat tua hanya sensasi maskulinitaslah yang terlihat darinya.

Pria tua ini adalah salah satu dari tujuh duke kerajaan, kepala keluarga Olsterio dan jenderal utama tentara persatuan nasional, Duke Marudoira De Olsterio.

Para duke adalah bangsawan peringkat tertinggi di kerajaan yang mendukung keluarga kerajaan, tetapi mereka tidak memiliki wilayah mereka sendiri, sehingga mereka mendapatkan uang dari pajak lord-lord domestik dan dari wilayah raja. Di sisi lain, mereka berada di pusat kekuasaan ketika mereka melakukan tugas-tugas penting untuk kerajaan.


“Mengenai masalah ini, putra sulung marquis Diento yang tinggal di ibu kota, Hebron, dia telah menduduki posisi penguasa diwalayah tersebut. Dengan pembunuhan mantan kepala keluarga dan putra kedua yang telah menghilang, Mungkin butuh waktu cukup lama bagi Hebron untuk menyelesaikan segalanya bahkan dengan kemampuannya ... ”


Jenderal Utama Marudoira berbicara tentang masalah ini dengan ekspresi pahit di wajahnya.


"Menurut saksi, para elf berada ditempat kejadian ......, peristiwa ini, mungkinkah itu pembalasan mereka?"


Sejujurnya aku tidak mengerti. Pada hari ketika elf mengklaim yang melakukannya, tiga penjual budak dihabisi dengan serangan mendadak. Lebih dari dua puluh beastmen melarikan diri, dan orang-orang mengatakan itu adalah pekerjaan para 'Emansipator'. "


“Tujuan 'Emansipator' adalah membebaskan budak beastmen kan? Para anggota pastilah seluruhnya adalah beastmen ......, apakah mereka berkerjasama dengan para elf? ”

“Itu sudah pasti …… Ini bisa saja hanya tipuan sehingga terlihat seperti itu. Untuk memperkuat faksi putri mahkota, dengan membuktikan kejahatan penangkapan elf di Diento di depan raja. Yang Mulia Juliana telah secara agresif menarik keharmonisan dengan para elf, jika tindakan kita terungkap oleh dirinya maka itu dapat dilihat sebagai tindakan pengkhianatan, dan kekuasaan Yang Mulia akan dilumpuhkan. Perintah untuk membungkam para pelayan yang menyaksikan kejadian telah diberikan, tetapi keberadaan salah satu dari mereka sudah tidak diketahui. Mungkin saja mereka sudah dilindungi oleh salah satu faksi lain ...... Dana yang akan dikirim dari Diento juga telah menghilang, dan elf biasanya hanya menunjukkan sedikit ketertarikan pada hal-hal yang berharga. Itu juga seharusnya bukan jumlah yang diambil dan dilaporkan oleh para elf…… ”


Pangeran Douglass meringis mendengar perkataan itu.

Jika hal ini menjadi publik, maka mungkin celah besar bisa terbentuk antara dirinya dan pangerang Sect dan putri Juliana dalam perebutan takhta.

Tidak, tiga dari duke sudah bergabung dengan faksi pangeran Sect, dan dia juga memiliki dukungan dari barat Leburan Empire.

Itu jelas bahwa takhta itu sangat condong ke arah faksi Sect.

Seperti yang dikatakan Jenderal Utama Marudoira, Douglass hanya bisa melihat kejadian ini sebagai tipuan seseorang terhadapnya.

Untuk lebih baik atau lebih buruk, Juliana seorang yang cenderung jujur, jadi tidak mungkin dia akan mencuri uang dengan kedok serangan kejutan para elf.

Namun, kakak tirinya yang lebih tua Pangeran Sect adalah tipe orang yang bisa menginjak kaki seseorang dengan wajah tak bersalah.


“Kita harus bertindak sebelum Sect bergerak. Setorion, kumpulkan beberapa dokumen yang berguna untuk Hoben. ”

"Seperti yang anda perintahkan."


Pria berusia 30-an yang berseragam militer mirip dengan Marudoira yang telah diam sampai sekarang, menundukkan kepalanya dengan hormat saat menerima instruksi Douglass.

Dia adalah putra tertua Duke Olsterio dan salah satu dari tiga jenderal kerajaan ini, Setorion De Olsterio.

Seperti yang diharapkan dari orang tua dan anak, ciri-cirinya seperti versi mudanya Marudoira.

Di mata pangeran Douglass, api kebencian gelap muncul ketika dia memikirkan sosok saudaranya, setelah dia mengangguk pada respon Setorion.



Sect POV



Pada saat yang sama, tiga orang berkumpul di ruang pribadi Pangeran pertama Rhoden Sect Rondaro Carunon Rhoden.

Dalam sebuah kursi berwarna amber dengan bantal kelas satu yang diselimuti pola bunga, seorang bangsawan sedang duduk di belakangnya.

Dia adalah pemilik dari kamar ini Sect. Dia memiliki sosok yang tinggi, rambut cokelat muda, dan dihiasi dengan pakaian mewah yang dibuat khusus untuknya.

Di samping pangeran Sect adalah seorang wanita cantik dengan rambut cokelat panjang yang diikat rapi dan beberapa bagian yang mirip dengan milik Sect, mengira dia memberikan kesan yang berbeda berkat banyaknya riasan yang dipoles pada wajahnya. Tubuhnya terbungkus gaun mewah yang memiliki rok lebar yang memberi kesan tegas.

Dia adalah Ibu Pangeran Sect, Letitia Rhoden Sadi ratu kedua.


"Masalah ini tampaknya telah menyebabkan pangeran Douglass untuk bergerak, Rondaru apakah kamu tidak akan bertindak?"


Ratu kedua Letitia, menanyai putranya Sect menggunakan nama masa kecilnya.

Hanya teman dan kerabat yang sangat dekat yang bisa menyapa anggota keluarga kerajaan dengan nama masa kecil mereka, jika orang lain melakukannya maka itu tidaklah sopan.


“Ibu, Douglass sekarang melakukan pembersihan. Meskipun mereka tampaknya ingin menutupinya, jelas bahwa banyak dana telah menghilang bersama dengan marquis Diento. Orang itu hanya mengulur-ulur waktu. Tidak masalah jika mereka diabaikan. ”


Pada kata-kata Pangeran Sect, orang lain di dalam ruangan yang telah diam sampai sekarang mengangguk sebelum dia mulai berbicara.


“Dengan segala hormat, satu-satunya yang bergerak agresif sekarang adalah putri Juliana. Ketika sang putri membuat masalah yang terbaru ini, maka posisi Yang Mulia Sect akan berada dalam bahaya juga ...... ”


Hanya suasana sombong yang datang dari pria yang berpakaian seperti seorang pendeta dan memiliki senyum palsu terpampang di wajahnya. Pria kecil ini adalah seorang uskup dari daerah Hiruku yang religius dan tinggal di ibu kota dengan alasan melakukan pekerjaan misionaris.


“…… Yah, Juliana sangat populer dengan warga ibukota. Menggunakan terobosan ini sebagai pijakan, para duke yang telah dengan tenang melihat dari samping mungkin cenderung untuk bergabung dengan sisi lain ...... Ada gerakan yang perlu diselidiki sebelumnya ......, Borane. Apakah mereka yang berbakat dalam sihir telah dikumpulkan? ”

"! Semuanya sudah siap! Dengan kehendak tuhan kita, saya memberkati anda Yang Mulia. Ini meyakinkan penganut yang beriman sangat senang mengambil bagian dalam penghancuran sang putri, Pangeran Sect. ”


Pria kecil bernama Borane terlalu melebih-lebihkan kegembiraannya.

Meskipun dilarang untuk menertawakan seorang putri, Borane tidak menerima ganjaran apapun dari Pangeran Sect.


“Borane, kau dan aku memiliki hubungan yang baik. Tidak perlu terlalu formal, secara khusus kau diperbolehkan memanggilku Rondaru. ”


Setelah beberapa saat bibir Bishop Borane membuat senyuman, saat dia dengan sopan mengungkapkan rasa terima kasihnya.


“Terima kasih saya yang tulus karena telah memberikan kehormatan seperti itu kepada saya pangeran Rondaru. Ada persiapan yang harus dilakukan untuk menyingkirkan rasa kekhawatiran anda, jadi saya akan pergi dari sini. ”


Meskipun perasaan kegembiraannya jelas meluap dari tubuhnya saat dia membungkuk dan pergi, ratu kedua mendesah begitu dia melihat Borane pergi.


“Apakah tidak apa-apa mengatakan hal seperti itu Rondaru? Bukankah ini akan menjadi menjengkelkan setelah putri Juliana dieliminasi? ”

“Itu tidak masalah. Orang yang terbang di antara diriku dan Douglass tujuannya hanyalah untuk melihat eliminasi putri Juliana. Juliana adalah biang keladi dari orang-orang yang menasihati ayah untuk tidak membiarkan tersebarnya agama Hiruku. Setelah aku membantu dengan penghapusan koneksi Juliana dan juga meyingkirkan tentara pribadinya. Kekuatan agama berbasis kuil di kerajaan ini saat ini tidak begitu besar, merangkul agama Hiruku akan menyulut sumber kekuatan baru di dalamnya. ”

"Aku mengerti. Setelah pemuja bait suci diusir ke luar kerajaan oleh agama Hiruku yang baru diakui akan meningkatkan populasi karena pengikut mereka akan mengalir di belakangnya. Dikabarkan bahwa kaisar Lebrun mengasingkan paus Hiruku, apa kau tidak menerima dukungan mereka? ”

"Benar. Memberikan pundak dingin ke Leburn Empire barat adalah Ide yang buruk karena mereka mengendalikan topik di pelabuhan-pelabuhan selatan, jadi itu adalah langkah buruk untuk dihubungkan dengan kerajaan agama yang terabaikan. Pertama mari kita selidiki gerakan Juliana …… Aku akan mengeksploitasi masalah ini sebagai kesempatan untuk menyingkirkan Douglass, lalu menyingkirkan pemimpin Diento dan membuatnya menjadi wilayahku sendiri. ”
(TL Note: 'Memberikan pundak dingin' idom yang berarti mengabaikan seseorang dengan sengaja)


Sect tertawa ironis ketika dia mengatakan itu, kemudian meneguk teh yang sudah dingin, sebelum memanggil bawahan menghadapnya dan mengatur persiapan untuk masa depan.



Juliana POV



Sementara pembersihan putri Juliana sedang berlangsung, orang itu sedang duduk di dalam ruangan lain di istana, melihat ke halaman dan minum teh.

Meskipun suasananya tenang, jika seseorang melihat gaunnya, mereka akan menemukan bahwa pakaian yang digunakan itu dengan sempurna disulam, dan orang itu sendiri memiliki antusiasme yang besar di matanya. Dia adalah putri kedua kerajaan Juliana Marill Melissa Rhoden Olav.

Dia bermain dengan rambut pirangnya yang panjang, dan dengan ekspresi tidak senang yang tidak cocok dengan mata coklatnya yang cantik, dia berbalik ke pria yang duduk di sampingnya.


“Aku hampir berpikir aku sudah menangkap Douglass-nii-sama dari ekornya. Meskipun ada penyelidikan rahasia pada lord Diento, untuknya dibunuh ..., mungkinkah Douglass menangkapnya dan melakukan ini untuk menghancurkan bukti? ”


Seorang pria yang ditanya putri Juliana yang berada di puncak hidupnya saat dia duduk di kursi dengan postur yang bagus dan mengenakan seragam jenderal militer.

Dia adalah salah satu dari tiga jenderal Rhoden, Carton De Furivutoran dan dia ragu sedikit pada pertanyaan sang putri.


“Sepertinya tidak Tuan Putri. Tidak hanya dia salah satu faksi utama pangeran Douglass, dia adalah pendukung yang berpengaruh, sehingga menaklukkan Marquis Diento tidak akan menjadi keputusan yang bijaksana. Adapun para saksi, meskipun kta bertindak segera, kita hanya bisa mengamankan satu orang yang sekarang dalam perlindungan kita. Kita segera mengirim saksi ke wilayah Dukedom Rinburoto …… ”


Pada perkataannya alis putri Juliana naik saat dia membuat ekspresi yang sulit.


“Menurut laporan, elflah yang menyerang kastil, mungkinkah itu pembalasan atas penculikan elf? Namun, pedagang budak di pusat kota juga diserang dan para beastmen juga dibebaskan ........ apakah mereka bersekutu satu sama lain? Diento dikatakan sebagai benteng yang kuat, apakah serangan yang sukses benar-benar dilakukan hanya dengan beberapa prajurit elf? ”


Sang putri menatap cangkir di atas meja saat uap naik darinya, dan jelas bahwa dia sedang berpikir sendiri daripada mengharapkan respon yang sebenarnya.


“Hubungan antara para elf dan para beastmen tidak terlalu tidak harmonis, kejadian itu sendiri sudah cukup untuk membuat cerita itu menjadi mungkin ……, tapi itu seharusnya masih agak sulit untuk menyusup tanpa sebuah guild. Secara misterius dana yang terkumpul semuanya diambil dan kastil itu sebagian dihancurkan oleh kebakaran, namun hanya beberapa elf yang dilaporkan telah terlihat ......, jadi mungkin saja penjarah datang setelah api padam. ”

“Bagaimanapun juga, orang-orang yang memiliki elf mungkin akan ketakutan karena insiden ini. Itu adalah pembalasan tanpa balas dendam terhadap benteng yang kokoh. Dalam situasi ini, kerjasama perdagangan yang bagus dengan para elf dari hutan besar telah semakin merenggang ...... Kakak yang bodoh, kamu telah melakukan sesuatu yang sama sekali tidak perlu! Kamu akan menyia-nyiakan perjanjian 400 tahun sebelum berakhir! "


Dia mengeluh tentang kakak tirinya yang lebih tua dengan desahan yang keras.


“Namun, kekuatan faksi Pangeran Douglass telah sangat berkurang oleh peristiwa ini. Para bangsawan yang terbang kesini akan meningkat. Kita harus mengawasi tindakan dari Yang Mulia Sect dalam waktu dekat. ”

" Nah, Sect-nii-sama mungkin mengambil kesempatan ini untuk dengan senang hati memecah belah mengganggu faksi Douglass. Mungkin lebih baik untuk berbicara dengan para elf mengenai situasi ini …… Kita hanya memiliki kerjasama perdagangan yang bagus melalui Dukedom Rinburuto, jadi kita membutuhkan cara untuk membentuk hubungan langsung dengan mereka. ”


Setelah mengangkat bahunya, dia mengambil secangkir teh herbal dan membawanya ke bibirnya. Keharuman teh menggelitik hidung sang putri, saat dia membuat ekspresi yang menyenangkan sembari menikmati pesta tehnya.

Kakak perempuannya, Serena, menikahi Tashkent, sang bangsawan dari Rinburuto.


"Aku ingin tahu apakah onee-sama baik-baik saja ..."


Dia mengatakannya sembari mendesah sebelum melirik ke luar jendela lagi.

Awan kelabu tebal menggantung di langit di atas ibu kota saat hujan dengan cepat mulai turun.



Friday, 31 August 2018

Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 21

Translator : Sai Kuze

Chapter 21 - Penyerangan Lord Diento [Bagian 2]


Aku berteleportasi ke lantai satu dan mengejar ketiga wanita elf tersebut. Meninggalkan ruang bawah tanah, mereka berjalan ke ruangan di ujung aula dan muncul di tengah-tengah lorong utama.

Sebuah tangga utama yang besar tersusun menuju lantai dua dari pintu masuk utama, dan tangga menuju lantai tiga tampaknya berada di kedua sisi lantai dua yang menghadap satu sama lain. Di bagian atas tangga utama, potret seorang pria dengan rambut beruban dan perut yang menonjol menghiasi dinding. Di tengah ruangan tergantung sebuah lampu gantung besar, dan keragaman furnitur mewah yang ditunjukkan di tempat ini menunjukkan kekuatan pemilik dari tempat ini.


“Kamar lord feudal ada di lantai tiga. Masih tidak ada yang mengawasi aula ...... ini aneh〜? ”


Elf bekas tawanan berambut pendek itu bergumam ketika dia melihat sekeliling aula utama sebelum nyala api terbentuk di tangan kanannya. Dia mungkin akan menembakkan sihir roh pada setiap penjaga yang bertugas.


"Para pekerjanya disebarkan menuju lokasi kebakaran diseluruh kota ......"


Aku menyuarakan pendapatku setelah aku bertemu dengan mereka di aula tengah. Lantai aula terbuat dari marmer yang dipoles dan membuat suara ketika aku berjalan menggunakan armorku, jadi aku tidak sengaja berhenti.


“Baguslah! Mari kita buru-buru memburu babi itu !! ”


Elf berambut panjang itu tertawa tanpa takut ketika angin kencang memenuhi ruangan dan diam-diam melompat ke udara. Ponta meneriakan gongonggan ketika kain tipis wanita itu berkibar tertiup angin saat dirinya mendarat di lantai dua.

Dia pasti seorang manipulator angin seperti Ponta.

Dua lainnya dengan cepat berlari mengejarnya saat mereka menuju tangga lantai tiga.


"Kyun Kyun!"


Karena Ponta sudah nyaman di kepalaku, aku menggunakan 【 Dimensional Step 】 untuk berpindah menuju barisan depan di lantai tiga.

Ketika aku sampai di lantai tiga aku mendengar pria dan wanita menjerit-jerit ketika suara peperangan terdengar di kedalaman aula.

Dengan suara 「 Doon 」, aku melihat pelayan wanita berlari dari kedalaman aula yang dihiasi dengan armor-armor ornamental yang dibalut dengan mantel suci.

Mereka mungkin adalah saksi mata peristiwa malam ini. Jika kesaksian mereka mengatakan bahwa seorang kesatria yang mencurigakan ada di sini, akan menjadi merepotkan dimasa depan.

Telekomunikasi belum diciptakan dan banyak orang yang memakai armor di kota, jadi kesaksian mereka mungkin tidak akan banyak membantu, tetapi aku tetap harus berhati-hati di sini.

Ketika aku melihat salah satu pelayan wanita setengah telanjang semakin mendekat, aku berpindah ke samping dan pura-pura menjadi salah satu armor hias. Ponta, yang ada di atas kepalaku, membaca suasana dan tidak bergerak sedikit pun. Dari sisi yang dilalui mereka Ponta seperti bulu yang sering terlihat pada pelindung kepala roman. Sementara aku memikirkan hal-hal sepele seperti itu, pelayan lain berlari keluar dari ruangan.

Dua pintu yang dulu terlihat mewah kini tanpa ampun digempur dan apa yang tampaknya menjadi tubuh para penjaga kini berserakan. Di sana-sini aku bisa melihat anggota tubuh yang hilang dari jiwa-jiwa malang ini yang berserakan.

Melangkah melewati ambang pintu, aku menemukan diriku di kamar tidur dengan ukuran yang cukup besar. Bahkan dengan mataku yang tidak terlatih aku dapat melihat bahwa barang-barang di ruangan ini semuanya mahal, dari patung-patung yang indah sampai kanopi dengan sebuah tempat tidur besar di dalamnya.

Seluruh ruangan dipenuhi benda-benda seperti kristal disebuah lilin, yang menerangi ruangan seperti lampu pijar.

Di bagian belakang ruangan, terlihat lukisan yang mirip dengan lukisan yang digantung di aula, di depannya ada seorang lelaki menyedihkan dengan tubuh bagian bawahnya terbuka sepenuhnya dan pisau di tangannya.

Elf berambut panjang menendang separuh bagian bawah pria itu dengan sekuat tenaga.


“Gyaahiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii !!!!”


Pria yang berteriak seperti dia mengalami akhir dari dunia mungkin adalah lord; sementara tubuh ini hanya terbuat dari tulang, sendi-sendi pinggulku bergetar.

Lord feudal bahkan tidak terjatuh saat dia memegang bagian dalam pahanya, tertutup keringat dan terengah-engah, dia dengan putus asa berteriak dengan suara yang tegang.


"Kau……! A-Apakah kau berpikir bahwa kau dapat melakukan sesuatu seperti ini kepadaku dan lolos begitu saja !! Aku seorang marquis dari kerajaan ini !! Didepan matamu adala-a-a──── ”

Pada feudal yang menahan rasa sakit di antara pahanya, Ariane melepas tudung jubahnya dan memandang rendah dirinya seperti sebuah kotoran.

Kulit lilac yang disembunyikannya menjadi terlihat, rambut putih saljunya acak-acakan, dan kristal didalam ruangan memberikan pencahayaan membuatnya terlihat seperti sedikit memerah. Suasana di sekelilingnya terasa dingin saat dia melangkah maju.


“Apakah kau mungkin telah salah paham? Bahkan jika kau terbunuh di sini, kerajaan ini tidak dalam posisi untuk membalas perbuatan kerajaan elf Kanada. Oleh karena itu, yang telah melanggar perjanjian Rhoden…. Disingkirkan. ”


Ketika dia memberi perintah dengan nada dingin, dia memasukkan selembar sobekan ke mulut si marquis, dan berbalik dan mengangguk pada kedua elf yang telah melepaskan kekuatan sihir di belakangnya.

Keduanya segera bergegas menuju marquis; hanya jeritan tertahan yang bisa didengar di kamar ketika darah disemprotkan di sekitarnya. Aku merasa seperti sedang menonton sebuah adegan dari sebuah drama gangsta. Tidak peduli seberapa tinggi kemampuan tubuh ini, lebih baik tidak memprovokasi mereka ......

Ketika mencoba untuk melarikan diri dari realitas kebrutalan di dalam ruangan, aku menemukan sebuah pintu kokoh yang tertutup rapat dengan lubang kunci yang terlihat kuat.

Lubang kunci yang terukir indah sudah cukup untuk menciptakan rasa ingin tahu tentang apa yang ada di sisi lain pintu.

Aku menarik pedangku dari pinggang dan menebas pintu itu. Kunci untuk mencegah penyusup tidak berguna karena pintunya mudah dipotong secara diagonal seperti selembar kertas yang dipotong dengan gunting.

Setelah aku menyingkirkan apa yang tersisa dari engsel pintunya, aku maju ke dalam untuk mencari barang-barang dan karya-karya seni yang mahal yang dijejalkan di dalam ruangan; sekali lihat sepertinya aku tidak menemukan barang-barang yang dapat kugunakan disini.

Ada beberapa peti kayu di belakang, dan ketika aku membukanya, aku menemukan bahwa peti itu penuh dengan kantung kulit yang dipenuhi koin emas.

Apakah seperti yang orang-orang katakan 'emas tidak akan gagal memikat hati seseorang'? Aku merasa seperti aku memasang seringai yang tidak disengaja di wajahku ketika aku menemukan harta karun ini. Meskipun tidak memiliki otot wajah untuk tersenyum ...

Seperti yang diduga akan sulit untuk mengambil seluruh koin emas saat ini, tetapi aku bisa mengambil sedikit jika aku mengemas kembali beberapa kantung kulit.

Seperti yang Ariane katakan sebelumnya, caraku mendapatkan kekayaan memang meragukan. Kupikir tidak akan ada yang keberatan jika aku mencurinya dari sini.


Novel Gaikotsu Kishi-sama, Tadaima Isekai e Odekake-chuu Bahasa Indonesia Volume 1 Chapter 21